Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

Pilih Sedih atau Tertawa?

Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

sedih atau tertawaMana lebih baik, bersedih atau bergembira? Saya yakin jika ini ditanyakan kepada orang, hampir semua jawaban akan memilih untuk bergembira. Saya coba tanyakan kepada seorang teman, dan ia menjawab "hanya orang bodoh yang lebih memilih untuk sedih." Tidak ada satupun orang yang mau berada dalam kesedihan dalam hidupnya. Kalau bisa hidup ini paling enak jika hanya berisi kegembiraan. Penuh canda tawa, tanpa masalah dari awal hingga akhir. Tetapi benarkah itu? Alkitab ternyata menyatakan justru sebaliknya. Dan ini bisa kita lihat dalam kitab Pengkotbah. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", yang berisikan beberapa hikmat esensial yang penting untuk kita ingat, salah satu ayatnya berbunyi kontroversial. "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3).

Bersedih itu dikatakan lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram akan membuat hati lega. Tidakkah ini terdengar aneh? Mungkin aneh bagi kita yang menganggap sebuah kesedihan itu hanyalah sesuatu yang menyiksa, tetapi sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita peroleh dibalik sebuah kesedihan. Dalam bahasa Inggris dikatakan "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ada sesuatu dibalik kesedihan yang bisa membuat hati kita lebih baik dan mampu beroleh sukacita. Demikianlah bunyi firman Tuhan mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar. Dan ayat ini sudah ditulis lewat orang yang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini, yaitu Salomo.

Jika kita membaca ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang berbunyi lebih aneh lagi. "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Dimana kita lebih suka berada? Di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi firman Tuhan berkata justru sebaliknya. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Ini mungkin sulit untuk kita terima jika tidak kita pikirkan. Tetapi marilah kita melihat mengapa kedua ayat ini lebih menganjurkan kita untuk bersedih dan berada di dalam rumah duka.

Apa yang kita pikirkan ketika pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari stal-stal disamping meja prasmanan yang penuh dengan sajian utama, musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa sebuah perenungan bagi kita, bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Life is short! Pemazmur menulis "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. That's it. Dibanding kehidupan kekal setelahnya sungguh sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk menabung demi kehidupan yang kita tuju selanjutnya. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang berada dalam keadaan senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan membawa perenungan bagi kita bahwa hidup ini sesungguhnya singkat, hanya bagai angin, hanya bagai bayang-bayang yang berkelebat. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.

Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

"To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan saya dan anda untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Firman Tuhan berkata "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita seharusnya bersyukur bukan hanya ketika semua baik-baik saja, tetapi juga ketika kita sedang mengalami sebuah kesedihan. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika waktu untuk tertawa datang kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam "musim" sedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah untuk itu.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan

Hanya dekat Allah saja aku tenang

dari pada-Nyalah keselamatanku (Mazmur 62:2)

Apakah kehidupan saudara dekat dengan Tuhan? Hidup dekat dengan Allah merupakan kebutuhan yang mendasar dan paling penting bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan di dalam diri manusia ada satu bagian yang tidak dapat diisi oleh apapun dan siapapun, kecuali oleh Allah. Jika bagian itu tidak diisi oleh Allah maka manusia akan mengalami kekosongan jiwa. Terkadang manusia mengisinya dengan hiburan-hiburan dunia, pekerjaan, bahkan dengan kegiatan-kegiatan sosial, tetapi tetap saja kosong dan kehampaan saja yang didapat.

Dekat dengan Allah = akrab atau intim dengan Allah. Keintiman dengan Allah membuat mausia bisa mengerti jalan-jalan hidupnya dan tidak cepat mengeluh ataupun putus asa. Memang tidak semua dalam hidup ini akan kita mengerti, tetapi Tuhan berjanji akan menuntun tiap-tiap langkah hidup kita.

Daud telah membuktikan hidup akrab dengan Allah akan membuat sesuatu yang berbeda dalam hidup. Hidup yang penuh dengan ketenangan saat badai datang, hidup yang dijalani dengan pimpinan Tuhan karena kita tahu apa yang Tuhan mau dari kita ketika kita hidup akrab dengan Allah. Seharusnya kita menyadari bahwa kita yang perlu Tuhan, bukan Tuhan yang perlu kita.

Bagaimana hidup saudara hari ini? Apakah saudara sudah bergaul akrab dengan Allah melalui doa dan merenungkan firman-Nya?

Seberapa Mahal Diri Kita?

Ada 3 botol minuman yang diproduksi di pabrik yang sama. Pagi itu ketiga botol dimasukkan ke dalam truk untuk diantarkan ke berbagai tempat. Truk itu berhenti di pasar lokal. Botol yang pertama kemudian dijual dengan harga 5000 rupiah. Truk melanjutkan perjalanannya kembali untuk mengantar botol yang kedua yaitu pada pusat perbelanjaan di tengah kota. Oleh pelayan toko tersebut, botol dijual dengan harga 9000 rupiah.
Sampailah truk pada pemberhentian terakhir yaitu di otel berbintang. Botol itu tidak dijual akan tetapi disimpan dan baru dikeluarkan pada saat ada orang yang memesannya. Oleh pelayan hotel, minuman pada botol tersebut dituangkan pada gelas kristal yang penuh dengan bongkahan-bongkahan es. Orang-orang yang menikmatinya pun tidak mempermasalahkan berapa harganya. Akan tetapi pada saat nota diberikan, tertulis bahwa harga minuman itu sebesar 50.000 rupiah.
Minuman dalam botol tersebut memiliki kualitas yang sama, rasa yang sama, diantar oleh truk yang sama, dan diproduksi oleh pabrik yang sama. Lalu mengapa harga dari ketiga botol minuman tersebut berbeda?
Lingkungan dimana botol-botol minuman itu berada, mencerminkan sebuah harga.Saat botol-botol itu berada pada lingkungan yang baik dan berkualitas, maka harganya pun semakin baik.
Lingkungan mencerminkan suatu relationship/hubungan. Lingkungan dapat mempengaruhi kualitas hidup kita. Saat kita berada pada lingkungan yang buruk, maka lingkungan tersebut akan meng-kerdil-kan kita. Apabila kita berada pada lingkungan yang baik, maka lingkungan tersebut akan membantu mengeluarkan semua sisi baik dalam diri kita.
Bergulah dengan orang-orang yang baik. Bangunlah suatu hubungan yang dilandasi dengan kasih. Sebelum kita melakukan hubungan keluar dengan orang lain, terlebih dahulu mari kita perbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita bergaul dengan Tuhan, maka kita akan memiliki kualitas hidup yang berbeda dengan dunia.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Matius 5:13

 copas by http://www.renunganhariankristen.net/seberapa-mahal-diri-kita/

Lebih Sayang TUHAN

Baca: Kejadian 22:1-19

“... dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (Kejadian 22:12,16)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yehezkiel 34-36


Suatu kali, anak kami yang berumur tiga tahun mengalami demam tinggi sampai mengigau. Maka, saya peluk dia kemudian kami ajak berdoa bersama. Hati kecil saya berdoa kepada Tuhan dengan berkata, “Biar saya saja yang mengalami sakit seperti ini, jangan anak saya.” Perasaan itu muncul karena rasa kasih sayang saya kepada anak pertama yang Tuhan anugerahkan bagi kami. Rasa sayang yang tentu juga dimiliki oleh kebanyakan orangtua.

Tuhan pun melihat rasa sayang yang begitu besar dalam diri Abraham kepada anak tunggalnya, Ishak (ayat 2). Abraham begitu sayang kepada Ishak sebab sekian lama ia menantikan anak ini dari Tuhan. Rasa sayang ini kemudian Tuhan uji, yaitu dengan meminta Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran kepada Tuhan (ayat 2). Bagaimana respons Abraham? Kasihnya yang besar kepada Ishak tentu memunculkan pergulatan batin yang berat. Namun, melihat tindakan iman yang ia lakukan (ayat 8-10) serta tanggapan Tuhan yang berkata: “dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (ayat 12, 16) menunjukkan bahwa Abraham lebih sayang kepada Tuhan. Kasihnya kepada Tuhan jauh melebihi kasihnya kepada Ishak. Kasihnya mengutamakan Dia yang berkuasa memberi dan mengambil (lihat Ayub 1:21).

Saat-saat ini, adakah hal-hal dalam kehidupan kita yang dapat mengalihkan kasih kita dari Tuhan? Pekerjaan, keluarga, harta, hobi, atau hal lain yang lekat di hati. Tuhan berkuasa memberi dan mengambil semua itu. Yang Dia minta, kita menjadikan-Nya yang terutama—mulailah hari ini.—YKP
UTAMAKAN TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA
SEBAB DIA LAYAK MENDAPAT KESELURUHAN HIDUP KITA.

Jalan Buntu Yang Dipakai Tuhan Untuk Menyatakan KuasaNya

2 Korintus 1:8-9 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.”

Ketika pengejaran mimpi Anda memburuk dari sulit menjadi tidak mungkin, ketika situasi terlihat sepertinya tidak ada harapan, Selamat ! Anda berada di dalam jalur yang sama dengan para pejuang iman lainnya.
Bahkan Paulus juga mengalami jalan buntu: “… Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” (2 Korintus 1:8-9)
Jika Tuhan dapat membangkitkan orang mati secara fisik, Dia bisa membangkitkan orang yang mati secara emosional.
Dia bisa membangkitkan pernikahan yang mati.
Dia bisa menghidupkan kembali karier yang mati.
Dia dapat membangkitkan Anda dari masalah kesehatan.
Jika Tuhan dapat membangkitkan orang mati, Dia bisa melakukan apa saja.
Dalam situasi Abraham, Tuhan berkata, “Aku ingin kamu menjadi Bapa bangsa yang besar,” tapi kemudian Abraham harus menunggu sampai dia berusia 99 tahun sebelum dia memiliki anak. Alkitab menunjukkan situasi Abraham berubah dari sulit menjadi mustahil. Dia melihat pada dirinya dan berkata, “Tidak!” Lalu dia melihat istrinya dan berkata, “Lebih tidak mungkin!”
Tapi Sarah akhirnya hamil dan mereka tertawa mengenai hal itu. Ketika bayi lahir, mereka menamainya Ishak, yang berarti tertawa. Tuhan seringkali mengijinkan masalah berubah menjadi kemustahilan. Para murid berencana untuk mengikuti Yesus.
Mereka mengira Dia adalah Mesias, tapi kemudian hal berikutnya yang mereka tahu adalah Yesus tergantung di salib, sekarat.
Apakah ini jalan buntu bagi para murid? Selama tiga hari rasanya seperti itu, tapi kemudian Yesus berjalan keluar dari kubur.
Ketika Anda menghadapi jalan buntu, Anda mungkin mulai bertanya, “Apa yang terjadi, Tuhan? Apakah saya telah keluar dari kehendak-Mu? Rencana-Mu? Apakah saya telah melewatkan visi dari-Mu?” Perlu diingat bahwa jalan buntu merupakan bagian dari rencana Allah bagi Anda.
Apa jawaban terbaik bagi jalan buntu?
“Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi” (2 Korintus 1:10)
Jalan buntu dapat menjadi bagian dari rencana Allah untuk menyatakan mujizat-Nya dalam kehidupan kita. Amien – GBU
copy from : http://www.ceritakristen.org/

Laki-Laki Dan Perempuan DiciptakanNya Mereka Menurut Gambar Allah

Kejadian 1:26-28 Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuihlah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pagi ini saya ingin berpikir bersama Anda mengenai tiga hal yang diajarkan dalam teks ini. Pertama ialah bahwa Allah menciptakan manusia. Kedua, Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya. Ketiga, Allah menciptakan kita laki-laki dan perempuan.

Adalah mungkin untuk memercayai ketiga kebenaran ini dan kita bukan orang Kristen. Bagaimanapun, ketiga hal tersebut memang diajarkan dalam Kitab Suci Agama Yahudi. Karena itu, seorang Yahudi yang benar-benar percaya pada Kitab Sucinya akan menerima kebenaran-kebenaran tersebut. Tetapi sekalipun Anda dapat memercayai ketiga kebenaran tersebut, dan Anda bukan orang Kristen, keseluruhannya menunjuk kepada Kekristenan. Kesemuanya meminta penyelesaian yang datang bersama karya Kristus. Itulah yang ingin saya sampaikan, khususnya berkaitan dengan kebenaran ketiga-yaitu bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah sebagai laki-laki dan perempuan.



1.  Marilah kita tinjau kebenaran pertama: bahwa Manusia Telah Diciptakan Oleh Allah.
Saya pikir hal ini meminta suatu penjelasan. MENGAPA Ia menciptakan kita? Kalau Anda membuat sesuatu, Anda mempunyai alasan untuk membuatnya. Tetapi apakah dunia yang kita kenal sekarang ini dapat memberikan penjelasan yang memadai terhadap pertanyaan tersebut? Perjanjian Lama berbicara mengenai manusia yang menyebabkan dunia ini tunduk di bawah kedaulatan-Nya. Perjanjian Lama berbicara mengenai penciptaannya untuk menyatakan kemuliaan Allah (Yes 43:7). Perjanjian Lama berbicara mengenai bumi yang dipenuhi pengetahuan tentang kemuliaan Allah.

Tetapi apa yang kita lihat? Kita melihat dunia yang memberontak terhadap Penciptanya. Kita lihat Kitab Suci Agama Yahudi diakhiri dengan kisah penciptaan yang sama sekali belum selesai dan pengharapan akan kemuliaan yang masih akan datang. Jadi sekadar memercayai bahwa Allah menciptakan manusia menurut versi Kitab Suci orang Yahudi mengajarkan bahwa Ia memang meminta agar sisa kisah itu diceritakan, dengan kata lain, Kekristenan. Hanya dalam Kristus tujuan penciptaan dapat tercapai.



2.  Atau tinjaulah kebenaran kedua, misalnya. Allah Menciptakan Kita Menurut Gambar-Nya.
Pastilah hal ini mempunyai suatu kaitan dengan mengapa kita berada di sini. Tujuan Allah dalam menciptakan kita pastilah mempunyai sesuatu yang luar biasa dalam kaitannya dengan fakta bahwa kita bukanlah katak atau kadal atau burung ataupun kera. Kita adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, hanya kita, dan tidak ada makhluk lain yang diciptakan seperti itu.

Tetapi lihatlah kekacauan apa yang telah kita perbuat terhadap kewibawaan luar biasa ini. Apakah kita seperti Allah? Yah, ya dan tidak. Ya, kita serupa dengan Allah, sekalipun kita berdosa dan tidak percaya tentang keserupaannya. Kita tahu hal ini karena dalam Kejadian 9:6 Allah berkata kepada Nuh, ”Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Dengan perkataan lain, bahkan dalam dunia di mana dosa melimpah (yang mirip dengan pembunuhan), manusia tetap merupakan gambar Allah. Mereka tidak boleh dibunuh seperti tikus atau nyamuk. Anda mengorbankan hidup Anda bila Anda membunuh manusia (lih. Yak 3:9)

Namun, apakah kita telah menjadi gambar Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya? Bukankah gambar itu telah dicemarkan, kadang-kadang sampai tidak dapat dikenali lagi? Apakah Anda merasa bahwa Anda serupa dengan Allah sebagaimana yang seharusnya? Jadi di sini sekali lagi dikemukakan, kepercayaan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah meminta untuk diselesaikan – dalam kasus ini, suatu penyelamatan, suatu transformasi, suatu bentuk penciptaan kembali. Dan itulah sesungguhnya apa yang dibawa oleh Kekristenan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik...dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 2:8-10; 4:24). Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya, tetapi kita telah merusakkannya sedemikian rupa sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi, dan Yesus adalah jawabannya. Ia datang karena iman, Ia mengampuni, Ia membersihkan, dan Ia memulai sebuah proyek reklamasi (pemulihan) yang disebut penyucian dan proyek itu akan berakhir dalam kemuliaan yang semula dimaksudkan Allah bagi umat manusia. Maka, karena kita tahu bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah, dosa dan kerusakan moral kita meminta sebuah jawaban. Dan Yesus adalah jawabannya.

3. Kebenaran ketiga dalam ayat-ayat ini adalah bahwa Allah Menciptakan Kita Laki-laki dan Perempuan.
Dan hal ini juga menunjuk kepada Kekristenan dan meminta penyelesaian oleh Kristus. Bagaimana caranya? Sedikitnya dalam dua cara. Cara pertama berasal dari misteri pernikahan. Cara lainnya berasal dari sejarah keburukan hubungan laki-laki dan perempuan dalam dosa.

Tinjaulah misteri pernikahan. Dalam Kejadian 2:24, tepat sesudah uraian mengenai bagaimana perempuan diciptakan, Musa (penulis Kitab Kejadian) mengatakan, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meniggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Sekarang ketika rasul Paulus mengutip ayat ini dalam Efesus 6:31, ia mengatakan, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.” Dan, dengan hal tersebut sebagai petunjuknya, ia menyingkapkan arti dari pernikahan: yaitu bahwa pernikahan adalah lambang dari kasih Kristus kepada jemaat-Nya, yang direpresentasikan dalam posisi kepala dari seorang suami yang penuh kasih kepada isterinya, dan juga lambang dari penyerahan sukarela jemaat kepada Kristus yang direpresentasikan dalam hubungan seorang istri kepada suaminya.

Ia menyebut Kejadian 2:24 sebagai sebuah “misteri” karena Allah tidak mengungkapkan dengan jelas seluruh maksud-Nya untuk pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam Kitab Kejadian. Dalam Perjanjian Lama ada banyak isyarat dan petunjuk bahwa pernikahan serupa dengan hubungan Allah dengan umat-Nya. Tetapi baru ketika Kristus datang misteri pernikahan diungkapkan secara terinci. Pernikahan dimaksudkan sebagai gambaran perjanjian Kristus dengan umat-Nya, komitmen-Nya kepada jemaat-Nya.

Jadi, apakah Anda melihat bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan kemudian menahbiskan pernikahan sebagai hubungan di mana seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya dalam ikatan perjanjian komitmen – betapa tindakan penciptaan dan penahbisan pernikahan ini meminta penyataan Kristus dan jemaat-Nya. Mereka meminta Kekristenan sebagai penyataan misteri tersebut.

Hal ini merupakan pemikiran asing bagi sebagian besar orang, bahkan bagi sebagian besar orang Kristen, karena pernikahan merupakan institusi (lembaga) sekuler dan sekaligus lembaga Kristen juga. Anda menemukan pernikahan dalam semua jenis kebudayaan, tidak hanya dalam masyarakat Kristen. Jadi kita tidak terdorong untuk berpikir bahwa semua pernikahan non-Kristen yang kita ketahui sebagai lambang misterius dari hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Tetapi sebenarnyalah demikian, dan keberadaan kita sebagai laki-laki dan perempuan dalam pernikahan memohon agar Kristus menjadikan diri-Nya dikenal dalam hubungan-Nya dengan jemaat-Nya. Kekristenan menyelesaikan pemahaman kita akan perjanjian pernikahan.

Perkenankanlah saya untuk menggoreskan sebuah gambaran bagi Anda di sini dan memberinya suatu pelintiran yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Kristus akan datang lagi ke dunia ini. Sebagaimana Anda melihat Ia pergi, Ia akan datang lagi, kata para malaikat. Jadi bayangkanlah hari itu bersama saya. Surga terbuka dan sangkakala berbunyi, dan Anak Manusia muncul di awan-awan dengan kuasa dan kemuliaan agung dan bersama puluhan ribu malaikat kudus yang bercahaya bagaikan matahari. Ia mengirimkan mereka untuk mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari ke empat arah mata angin dan membangkitkan dari antara orang mati mereka yang meninggal dalam Kristus. Ia memberikan kepada mereka tubuh baru dan mulia seperti tubuh-Nya sendiri, dan mengubah kita yang masih tinggal dalam sekejap mata sehingga layak untuk kemuliaan-Nya.

Persiapan berabad-abad dari mempelai Kristus (gereja!-jemaat) akhirnya selesai dan Ia menggandeng tangannya, dan menuntunnya ke meja perjamuan. Perjamuan pernikahan Anak Domba Allah sudah tiba saatnya. Ia berdiri di kepala meja dan suatu keheningan turun di antara ribuan orang kudus. Dan Ia berkata, “Inilah, kekasih-kekasihku, arti daripada pernikahan. Inilah yang menjadi tujuan dari semuanya itu. Inilah sebabnya mengapa Aku menciptakan kamu sebagai laki-laki dan perempuan dan mentahbiskan perjanjian pernikahan. Sejak saat ini tidak akan ada lagi pernikahan dan penyerahan ke dalam pernikahan, karena realitas akhirnya telah tiba dan bayangannya dapat berlalu.” (lih. Mrk 12:25; Luk 20:34-36)

Sekarang mari kita mengingat kembali apa yang sedang kita lakukan: kita sedang mencoba untuk melihat bahwa kebenaran ketiga, Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya sebagai laki-laki dan perempuan, menunjuk kepada Kekristenan sebagai penyelesaiannya. Dan saya berkata, hal tersebut mewujudkannya dalam dua cara. Cara pertama ialah dalam misteri pernikahan. Penciptaan umat manusia sebagai laki-laki dan perempuan menyediakan kerangka kerja yang diperlukan dalam penciptaan untuk peneguhan pernikahan. Anda tidak dapat menyelenggarakan pernikahan tanpa laki-laki dan perempuan. Dan arti dari pernikahan tidak diketahui intinya atau kepenuhannya sampai kita melihatnya sebagai perumpamaan dari hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.

Jadi penciptaan sebagai laki-laki dan perempuan menunjuk kepada pernikahan, dan pernikahan menunjuk kepada Kristus dan jemaat-Nya. Dan karena itu, kepercayaan bahwa Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya sebagai laki-laki dan perempuan tidaklah lengkap tanpa Kekristenan tanpa Kristus dan karya penyelamatan-Nya untuk jemaat-Nya.

Sekarang, saya mengatakan bahwa ada cara lain bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah menunjuk kepada Kekristenan sebagai penyelesaian yang diperlukan, maksudnya dari penyimpangannya dalam keburukan bersejarah dari hubungan laki-laki dan perempuan. Perkenankan saya untuk mencoba menjelaskannya.

Ketika dosa masuk ke dalam dunia, efeknya pada hubungan kita sebagai laki-laki dan perempuan sangatlah dahsyat. Allah datang kepada Adam setelah ia memakan buah terlarang dan menanyakan mengenai apa yang telah terjadi. Adam berkata dalam Kejadian 3:12, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Dengan perkataan lain, itu merupakan kesalahan perempuan itu (atau kesalahan Allah yang telah memberikan perempuan itu kepadaku!), jadi kalau seseorang harus mati karena memakan buah itu, lebih baik perempuan itu yang mati!

Di sana kita menyaksikan awal dari segala kekerasan dalam rumah tangga, semua penganiayaan terhadap istri, semua pemerkosaan, semua pelecehan seksual, semua cara untuk merendahkan perempuan yang telah diciptakan Allah menurut gambar-Nya sendiri.

Kejadian 3:16 menjatuhkan kutukan kepada laki-laki dan perempuan seperti ini: kepada perempuan itu Allah berkata, “Susah payahmu pada waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Dengan perkataan lain, akibat dari dosa dan kutuk dalam zaman kita ialah konflik antara kedua jenis kelamin tersebut. Ayat ini bukanlah gambaran mengenai bagaimana seharusnya segala sesuatu berlangsung. Ayat ini menggambarkan bagaimana hal-hal akan terjadi di bawah kutuk itu sementara dosa memerintah. Kaum laki-laki yang mendominasi dan kaum perempuan yang penuh tipu daya. Ini bukanlah arti dari laki-laki dan perempuan yang diciptakan dalam gambar Allah. Gambaran ini menunjukkan keburukan dari dosa.

Sekarang bagaimana keburukan ini menunjuk kepada Kekristenan? Hal tersebut menunjuk kepada Kekristenan karena hal tersebut meminta penyembuhan yang dibawa oleh Kekristenan terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan. Bila Allah menciptakan dalam gambar-Nya sebagai LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN, hal tersebut mengimplikasikan kesetaraan dari kemanusiaan, kesetaraan martabat, saling menghormati, keharmonisan, komplementer (saling melengkapi), kesatuan tujuan. Tetapi di manakah kesemua hal ini dalam sejarah dunia? Semuanya terdapat dalam kesembuhan yang dibawa oleh Yesus.

Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan di sini. Namun, perkenankanlah saya menyebutkan hanya dua hal saja.

Pertama, Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 3:7, bahwa seorang suami dan istri Kristen adalah “sesama pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.”

Apakah maksudnya? Hal itu berarti bahwa dalam Kristus laki-laki dan perempuan mendapatkan kembali apa yang dimaksudkan dengan diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah. Hal itu berarti bahwa bersama-sama sebagai laki-laki dan perempuan mereka harus mengemukakan citra kemuliaan Allah, dan bersama sebagai sesama pewaris mereka mewarisi kemuliaan Allah.

Penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah (ketika Anda melihatnya berdampingan dengan dosa) memohon penyelesaian untuk kesembuhan yang hadir bersama karya transformasi Kristus dan warisan yang dibeli-Nya untuk orang-orang berdosa. Kristus memulihkan dari dosa realitas bahwa laki-laki dan perempuan adalah sesama pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.

Hal lain yang dikemukakan mengenai cara Kristus mengubah berbagai hal dan mengatasi keburukan dari peperangan kita dan memenuhi panggilan sebagai ciptaan-Nya, yaitu laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah, terdapat dalam 1 Korintus 7. Di sana Paulus mengatakan sesuatu yang radikal, sedemikian rupa sehingga hampir tidak dapat dipercayai untuk zaman itu, “Kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku (melajang)…Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Semuanya ini kukatakan …bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi…supaya kamu…melayani Tuhan tanpa gangguan” (1 Kor 7:8, 32-35).

Apakah Anda melihat apa yang diimplikasikannya? Ayat tersebut mengimplikasikan bahwa kesembuhan yang dibawa oleh Tuhan Yesus kepada laki-laki dan perempuan yang diciptakan menurut gambar Allah tidak tergantung pada pernikahan. Bahkan pengalaman Paulus sebagai seorang laki-laki lajang (dan model Tuhan Yesus sebagai laki-laki yang tidak menikah) mengajarkan kepadanya bahwa ada suatu jenis pengabdian yang sepenuhnya terpusat kepada Tuhan yang mungkin bagi laki-laki atau perempuan yang tidak menikah, yang biasanya bukan menjadi porsi orang-orang kudus yang menikah.

Cara lain untuk mengatakan hal tersebut ialah sebagai berikut: pernikahan merupakan institusi (lembaga) yang bersifat sementara dalam zaman ini sampai saat kebangkitan orang mati. Inti dari arti dan tujuannya ialah untuk mewakili hubungan Kristus dengan gereja-Nya. Tetapi bila realitas itu tiba, representasi (perwakilan) sebagaimana yang kita ketahui itu akan dikesampingkan. Dan dalam zaman yang akan datang tersebut tidak akan ada lagi pernikahan atau penyerahan kepada pernikahan. Dan mereka yang tidak menikah dan memusatkan diri kepada Tuhan akan duduk di meja perjamuan Anak Domba sebagai sesama pewaris penuh dari kasih karunia kehidupan itu. Dan berdasarkan tingkat pengabdian mereka kepada Tuhan serta pengorbanan mereka, mereka akan mendapat pahala dalam kasih sayang dan hubungan-hubungan serta sukacita yang tidak terbayangkan.



Jadi marilah kita menyimpulkan apa yang telah kita pelajari tadi.
1)  Allah Menciptakan Manusia
Dan sebagaimana akhir dari Perjanjian Lama, fakta menakjubkan ini menuntut kelanjutan dari kisahnya, Kekristenan, untuk menjadikannya dapat memahami mengenai apa sebenarnya maksud Allah. Tujuan-tujuan penciptaan-Nya tidak sempurna tanpa pekerjaan Kristus.

2)  Allah Menciptakan Kita MENURUT GAMBAR-NYA
Tetapi kita sudah mencemarkan citra tersebut sedemikian hebat sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi. Oleh karenanya, kebenaran ini meminta penyempurnaannya dalam Kekristenan karena apa yang dilakukan Tuhan Yesus merupakan pemulihan dari apa yang telah hilang. Hal tersebut disebut sebagai ”suatu ciptaan baru dalam Kristus.” Citra atau gambaran ini dipulihkan dalam kebenaran dan kekudusan.

3)  Allah Menciptakan Kita Menurut Gambar-Nya SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Dan hal ini juga meminta penyelesaian dalam kebenaran Kekristenan. Tidak seorang pun dapat sepenuhnya memahami apa artinya menjadi laki-laki dan perempuan dalam pernikahan sampai mereka melihat bahwa pernikahan dimaksudkan sebagai gambaran Kristus dengan jemaat-Nya. Dan tidak seorang pun mengetahui tujuan sebenarnya dari penciptaannya sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar (citra) Allah sampai mereka mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan adalah sesama pewaris kasih karunia kehidupan.

Dan akhirnya, tidak seorang pun dapat sepenuhnya memahami arti dari keadaan tidak menikah (kelajangan) sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah sampai mereka belajar dari Kristus bahwa dalam zaman yang akan datang tidak akan ada pernikahan, dan oleh karena itu tujuan akhir yang mulia dari menjadi laki-laki dan perempuan dalam citra Allah tidak tergantung pada pernikahan, tetapi pada pengabdian kepada Tuhan.

Oleh karenanya, tinggallah dalam kebenaran-kebenaran ini: Allah menciptakan Anda; Ia menciptakan Anda menurut gambar-Nya; dan Ia menciptakan Anda (sebagai) laki-laki dan perempuan agar Anda dapat sepenuhnya dan secara radikal dan secara unik mengabdi kepada Tuhan.

Artikel khotbah ini:
Diterbitkan oleh      :     Desiring God Ministries (www.desiringGod.org)
Ditulis oleh            :     John Piper.
Seri                       :     Biblical Manhood and Womanhood
Topik                     :     Family
Subtopik                :     Biblical Manhood and Womanhood
Diterjemahkan oleh :     Lanny Utoyo.
Profil Rev. Dr. John S. Piper:
Rev. John Stephen Piper, D.Theol. adalah Pendeta Senior di Bethlehem Baptist Church dan seorang penulis yang sangat produktif dari perpektif Calvinis. Beliau menyelesaikan gelar Bachelor of Divinity (B.D.) di Fuller Theological Seminary di Pasadena, California pada tahun 1968-1971. John melakukan studi Doctor of Theology (D.Theol.) di dalam bidang Perjanjian Baru di University of Munich, Munich, Jerman Barat pada tahun 1971-1974. Disertasinya, Love Your Enemies diterbitkan oleh Cambridge University Press dan Baker Book House.

slide kidung jemaat berbentuk gambar

Ingin download slide yang seperti ini ?
Kidung Jemaat No.1
Kidung Jemaat No.1
Silahkan klik :
http://www.myotherdrive.com/dyn/ls/774.262308.23092009.13584.6a65dy


CARA MENGUNDUH FILE
Masuk ke situs: http://www.myotherdrive.com/dyn/ls/774.262308.23092009.13584.6a65dy/Nyanyian

Muncul lima folders induk :
      * Contoh Liturgi
      * Kidung Jemaat (KJ)
      * Lain-Lain (Aneka lagu rohani, worship)
      * Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB)
      * Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ)
Klik folder yg diperlukan, misal Nyanyikanlah Kidung Baru, > muncul folder tunggal dg nama NKB, klik folder tsb > muncul ratusan subfolder dari 1 sampai duaratus sekian, sesuai yg sudah kami upload. Nomor-nomor ini sesuai dg nomor lagu nyanyian NKB. Pilih nomor lagu yg diperlukan (misal 125), berarti nyanyian no.125 pada buku NKB yg akan muncul,
terlihat 4 files (3 bait + 1 refrain) > klik satupersatu file-file tsb. Perhatikan di sebelah atas ada Tab Download Original (ukuran bytes) > klik tab tsb, maka akan muncul kotak dialog yg menawarkan dua pilihan: Open atau Save File, pilih Save File dan tentukan ke mana kita akan simpan file yg diunduh.
Setelah file pertama selesai diunduh, klik Tab: Return to Folder (yg berada di sebelah Tab utk download) > klik Tab ini, dan kembali terlihat 4 files tadi, Download file berikutnya dg cara spt tadi.

Shalom aleichem, selamat melayani!
Ingin bergabung dengan page lagu-lagu, silahkan kunjungi :
http://www.facebook.com/pages/Lagu-lagu-KJ-NKB-PKJ-Hymn-dg-not-angka/141371483105?v=wall

APAKAH ORANG MATI KEHENDAK ALLAH...?

Firman Allah (Pedoman Alkitab): Mz. 51:5,: ”Sesungguhnya, aku jahat sejak dilahirkan, dan kena dosa sejak dari kandungan.” (Lihat juga Ayub 14:4; Kejadian 8:21.)
Rm. 3:23; 6:23: ”Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah . . . Upah yang dibayarkan oleh dosa adalah kematian.”
Allah tidak ”mengambil”

anak-anak dari orang tua mereka, seperti yang telah dikatakan oleh orang-orang. Meskipun bumi menghasilkan banyak makanan, unsur politik dan perdagangan yang mementingkan diri sering kali mengakibatkan makanan tidak dibagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya, sehingga mengakibatkan kematian karena kekurangan gizi. Ada anak-anak yang mati dalam kecelakaan, seperti orang-orang dewasa. Tetapi kita semua mewarisi dosa; kita semua tidak sempurna. Kita dilahirkan dalam suatu sistem tempat setiap orang—yang baik maupun yang jahat—akhirnya mati. (Pkh. 9:5) Tetapi Allah ”rindu” untuk mempersatukan kembali anak-anak dengan orang tua mereka melalui kebangkitan, dan dengan penuh kasih telah membuat persediaan untuk melaksanakannya.—Yoh. 5:28, 29; Ayb. 14:14, 15; bandingkan Yeremia 31:15, 16; Markus 5:40-42.

Apakah manusia diciptakan oleh Allah untuk mati..?
Sebaliknya, Allah memperingatkan Adam terhadap ketidaktaatan, yang akan mengakibatkan kematian. (Kej. 2:17) Belakangan, Allah memperingatkan Israel terhadap tingkah laku yang dapat mengakibatkan bahkan kematian dini bagi mereka. (Yeh. 18:31) Pada waktunya Ia mengutus Putra-Nya untuk mati demi kepentingan umat manusia sehingga mereka yang beriman akan persediaan ini dapat menikmati hidup yang kekal.—Yoh. 3:16, 36.
Mazmur 90:10 mengatakan bahwa umumnya kehidupan manusia mencapai 70 atau 80 tahun. Halnya memang demikian ketika Musa menulisnya, tetapi tidak demikian pada mulanya. (Bandingkan Kejadian 5:3-32.) Ibrani 9:27 mengatakan, ”Manusia disediakan untuk mati sekali untuk selamanya.” Hal ini juga benar ketika ayat ini ditulis. Namun, tidak demikian halnya sebelum Allah menjatuhkan hukuman kepada Adam yang berdosa.
Mengapa kita menjadi tua dan mati..?
Allah menciptakan pasangan manusia pertama dengan sempurna, dengan harapan untuk hidup kekal. Mereka dikaruniai kebebasan berkehendak. Apakah mereka akan menaati Pencipta mereka karena kasih dan penghargaan untuk segala sesuatu yang telah Ia lakukan bagi mereka..? Mereka mempunyai kesanggupan penuh untuk berbuat demikian. Allah mengatakan kepada Adam, ”Tetapi mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, engkau tidak boleh memakan buahnya, karena pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.” Dengan menggunakan seekor ular sebagai alat untuk berbicara, Setan membujuk Hawa untuk melanggar perintah Allah tidak menegur istrinya tetapi ikut bersamanya, dan makan buah yang terlarang itu. Tepat seperti yang dikatakan-Nya, Allah menjatuhkan hukuman mati ke atas Adam, tetapi sebelum menghukum pasangan yang berdosa itu, karena belas kasihan Allah, mereka diizinkan untuk mempunyai keturunan.—Kej. 2:17; 3:1-19; 5:3-5; bandingkan Ulangan 32:4 dan Penyingkapan 12:9.
Rm. 5:12, 17, 19: ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang [Adam] dan kematian, melalui dosa, demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena mereka semua telah berbuat dosa—. . . . Karena pelanggaran satu orang kematian berkuasa sebagai raja . . . Melalui ketidaktaatan satu pria, banyak orang menjadi orang berdosa.”
1 Kor. 15:22: ”Semua manusia mati sehubungan dengan Adam.”